Eksponen66's Blog

Just another WordPress.com weblog

DIPERSIMPANGAN JALAN

“ Pungutan-pungutan insedentil mengakibatkan mahalnya biaya Pendidikan “

By :Ushuluddin Nur : Sekretaris DN’66 Kotim

Lembaga Pendidikan sebagai central Basic mencerdaskan kehidupan bangsa bagi anak Negeri dalam perkembangannya dewasa ini belum dapat mengakomodir seluruh keinginan masyarakat untuk dapat bersekolah. Hal ini disebabkan masih tingginya biaya pendidikan yang harus disandang masyarakat jika berkeinginan anaknya masuk sekolah, ditambah lagi berbagai pungutan yang dilakukan saat anak sudah masuk sekolah,apakah itu buku wajib yang harus dibeli pada hampir seluruh bidang studi maupun untuk berbagai kegiatan yang harus diikuti.

Kita tidak bisa membantah Filosofi yang mengatakan bahwa Pendidikan yang bermutu itu akan mengakibatkan biaya menjadi mahal. Akan tetapi apakah hal tersebut menjadi suatu alasan bagi lembaga-lembaga Pendidikan untuk bersikap otoriter sehingga menganggap wajar jika hal tersebut dilakukan. Jika memang demikian, maka akan terjadi pengkotak-kotakan terhadap masyarakat yaitu yang kaya berhak atas Pendidikan dan yang Miskin minggir. Akhirnya, kita letakkan saja disampah komitmen UUD’45 yang mengatakan bahwa seluruh Rakyat berhak atas pendidikan.

Ada seorang Bapak menangis sedih ketika anaknya diterima pada sekolah pilihan anaknya, dia menangis bukan bahagia anaknya diterima pada sekolah itu, akan tetapi dia menangis karena harus membayar biaya masuk sekolah yang sekian juta ditambah uang Pembangunan dan lain-lain. Sebagai seorang buruh lepas, penghasilannya untuk dimakan sehari-hari saja sangat minim bahkan untuk menabung saja tidak ada sisa dari penghasilan tersebut. Ketika dikonfirmasi kepada sekolah untuk dapat keringanan biaya, dengan enteng lembaga sekolah mengatakan bahwa jika tidak mampu dipersilahkan untuk mencari sekolah lain……masya Allah ! Akhirnya dengan susah payah Bapak tersebut mencari pinjaman kesana-kemari dan beliau mendapatkan pinjaman untuk membiayai sekolah anaknya.

Ternyata ceritera tersebut belum selesai, ketika anak sudah masuk sekolah Masing-masing Guru bidang studi mewajibkan siswanya untuk menebus Buku dari penerbit tertentu. Hal ini juga menebar ancaman bahwa jika siswa tidak membeli buku maka dia akan dikenai sangsi mendapatkan Poin sebagai pelanggaran Tata tertib sekolah. Pada kegiatan Ekstra Kurikuler ternyata masih ada lagi pungutan-pungutan dengan dalih iuran untuk pembelian sesuatu, belum lagi biaya Les tambahan dll. Lebih tragisnya lagi kadang hal-hal tersebut setiap bulan terjadi dengan berbagai alasan. Semua kegiatan yang dilaksanakan dengan biaya-biaya tersebut memang nyata dilaksanakan, namun orang Tua telah menjadi korban. Penghujung Ceritera, anak dari bapak tersebut pada akhirnya Drop out dari sekolah itu.

Inilah wajah Pendidikan kita yang berada dipersimpangan jalan, yang tanpa disadari telah menciptakan lembaga pendidikan sebagai Basic pengkaderan orang-orang yang hidup serba materialistis.

Sebenarnya tidak ada alasan bahwa akibat Gajih Guru kecil, karena pada kenyataannya Gajih Guru Negeri pada saat ini sudah sangat fantastis, belum lagi tunjangan bagi mereka yang telah sertifikasi. Pada sekolah swasta memang Gajih Guru sangat minim bahkan hampir 90% dibawah standard UMR Propinsi, karena mereka murni membiayai diri sendiri. Bantuan Insentif pada pemerintah bagi Guru Honor dan swasta belum merata bahkan konstribusinya banyak tidak sesuai waktu, tertunda, terlambat dll.

Yang sangat mencengangkan lagi adalah, hal-hal tersebut kebanyakan terjadi pada sekolah-sekolah Negeri yang notabene dibiayai oleh Pemerintah. Seharusnya di Sekolah Negerilah tempat sekolah murah (tidak gratis), dapat mengakomodir masyarakat tidak mampu.
Karena pada kenyataannya, orang miskin itu tempatnya disekolah swasta bahkan banyak anak didik yang dibebaskan dari segala pembayaran berada di sekolah swasta, pembayaran dapat dicicil. Namun kadang miris melihat sekolah swasta disamping fasilitas minim sering mandapat tudingan tidak becus, kumuh dan sekolah dengan siswa sampah (sisa dari yg tidak diterima pada sekolah negeri).

Dari pokok pikiran diatas, DN’66 Kotim mengharapkan Respon dari artikel ini unbtuk kemajuan Pendidikan kita khususnya di Kabupaten Kotawaringin Timur.

13 November 2009 - Posted by | Uncategorized

1 Komentar »

  1. Memang demikian wajah lembaga pendidikan kita bung. Mau ngomong apa………..kita tinggal nunggu apakah wakil2 rakyat kita cerdas menyikapi permasalahan ini.

    Komentar oleh w4g3h2 | 13 November 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: